IMAN SEBELUM QURAN

Mengapa Iman dahulu sebelum qur’an?. Apa dasarnya?. Mari kita simak tulisan saya dibawah ini, kisah dari sahabat jundub tentang bagaimana rasulullah mendidik para sahabat. Kisah ini, terdapat dalam hadits riwayat Baihaqi, dikeluarkan hakim, Dari Jundub bin ‘Abdillah, ia berkata,:

عَنْ جُنْدُبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ فَتَعَلَّمْنَا الإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا »

Dari Jundub bin ‘Abdillah, ia berkata, kami dahulu bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami masih anak-anak yang mendekati baligh. Kami mempelajari iman sebelum mempelajari Al-Qur’an. Lalu setelah itu kami mempelajari Al-Qur’an hingga bertambahlah iman kami pada Al-Qur’an. (HR. Ibnu Majah, no. 61. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Sebelum kita mengaitkan Al-Quran dengan keimanan, berapa persenkah kita memahami definisi keimanan?.

Para ulama mendefinisikan iman, pengakuan dengan lisan, pembenaran dalam hati, dan amal dengan anggota badan, bisa bertambah dan bisa berkurang.
“Iman itu bertambah dan berkurang. Bertambah dengan ketaatan, berkurang dengan kemaksiatan” imam at-tirmidzi

Sedangkan pengertian Iman menurut Ustadz Adi Hidayat, Kata iman berasal dari kata Al-Amnu yang dalam bahasa Indonesia berarti aman, tentram, dan tenang.

Iman memiliki korelasi dengan kata aman. Korelasi kedua kata tersebut dapat diartikan bilamana meyakini Allah, maka akan diberikan ketenangan dalam jiwanya, aman dari kegelisahan dunia dan ancaman di akhirat. Maka turunlah Quran Surat Al- An’am ayat 82 yang berbunyi sebagai berikut:

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْٓا اِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمُ الْاَمْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُوْنَ ࣖ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk.” QS. Al-An’am Ayat 82.

Ini sedikit teori tentang keimanan. Lalu, mengapa harus iman dahulu sebelum Quran, padahal Qur’an adalah kitab agung yang menjadi kebanggaan islam, juga panduan dasar seluruh muslim di dunia?!. Dalam ilmu dan mempelajari sesuatu, ada skala prioritasnya. Dan iman adalah prioritas utama. Jika seseorang, hafal Al-Quran 30 juz lengkap, lancar, dengan Qiraat diluar kepala, tapi tak ada iman, belajar Al-Quran sebelum menanamkan nilai keimanan, maka apa yang terjadi?. Rapuh. Keropos. Mereka fasih baca al fatihah sampai annas, tapi tidak ada prinsip-prinsip Al-Quran dalam dirinya. Tidak meresapi perintah-perintah dalam Al-Quran. Tidak tertarik menjalankan perintah AlQuran, tidak tertarik menjauhi hal-hal yang dilarang dalam Al-Quran. Tidak tertarik mengamalkan isi Al-Quran. Inilah yang terjadi ketika belajar Al-Quran sebelum iman. Ini adalah fakta yang dijabarkan oleh Abdullah bin Umar. dan faktanya saat ini memang sangat banyak yang mahir Al-Quran, tapi lupa pentingnya keimanan. Belajar dan mendalami Al-Quran sangat penting namun, jangan lupakan tentang betapa pentingnya keimanan yang harus ada di dalam dada setiap mu’min. Perhatikan betapa krusialnya keimanan dalam hal ini.hafal Al-Quran, tapi tak takut pada Allah, tak yakin pada Allah, tak memperdulikan bahwa Allah maha melihat, maha mendengar. Pandai berbicara tentang Al-Quran, tapi tak ada iman. Tak yakin tentang Allah, tak yakin tentang hari akhir, tak yakin akan ada hari hisab, tak yakin tentang hari pembalasan. Al-Qurannya hanya dijadikan konten, hanya dijadikan alat kontes, alat debat, alat berbangga diri. But zero percent profile Qurani. Maka apakah seperti ini yang dicontohkan rasul?!. Mari kita ulang perkataan Aisyah ketika ditanya tentang profil Rasulullah. Apa jawaban Aisyah?. “كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ”. “Akhlak Nabi adalah Al-Quran”. Al-Quran bukan hanya ada di hafalan saja, tapi seluruh gerak-gerik, cara berbicara, tingkah laku, segala perbuatan yang diperbuat, berdasarkan pada Al-Quran. Seperti Al-Quran yang berjalan. Al-Quran tergambar penuh dalam dalam diri Rasulullah. Betapa indahnya jika kita mampu meniru hal ini, dari rasul. Melihat Al-Quran berjalan bukan sesuatu yang tak mungkin meski kita hidup di penghujung zaman. Lihatlah, bagaimana menjamurnya dan semaraknya semangat menghafal Al-Quran yang terjadi di indonesia. Dahulu menghafal dan mendalami Al-Quran adalah hal yang sangat jarang kita temukan, eksklusif. Dan saat Al-Quran menjadi latah yang di gandrungi banyak orang seperti saat sekarang ini, adalah hal yang telah ditunggu-tunggu. Interaksi dengan Al-Quran meninggi dan menjadi tren zaman. Lalu mari kita lihat, akan seperti apa jika Ilmu Al-Quran yang disertai dengan keimanan yang matang?, akan melahirkan akhlak yang seperti apa?. Sungguh zaman kegemilangan islam yang kita rindukan, bukan hal yang mustahil akan kembali kita rasakan. 

Inilah yang terjadi jika keimanan yang diseimbangkan dengan candu terhadap Al-Quran. Kita akan disuguhkan dengan pemandangan Al-Quran-Al-Quran yang berjalan. Berkata lemah lembut dan berbuat baik pada orangtua, seperti surah Al-Isra’ berjalan. Rajin infaq dan sedekah, surah Al-baqarah berjalan. Menutup aurat dengan rapi, surah An-nur berjalan. Menahan amarah dan tidak berucap kasar, surah Ali-Imran berjalan. Berbicara dengan halus dan sopan, surah Thahaa berjalan. Menghormati tamu, surah Adz-dzariyat berjalan. Tidak pelit dan iri hati, surah An-Nisa berjalan. Tidak mencampur adukkan antara hak dan bathil, surah Al-Baqarah berjalan. Semua perbuatannya seperti Al-Quran berjalan. Keseimbangan antara keimanan dan Al-Quran melahirkan akhlak yang sangat mulia dan penuh keteladanan. Tidak pincang dan berat sebelah. Dan tidak merusak salah satu dari kedua hal utama ini karena tidak dilengkapi dengan salah satunya. Al-Quran tanpa iman, merapuhkan jati diri seorang Muslim, ia muslim tapi tak jadi seorang mu’min tanpa iman bukan?!. Iman tanpa Al-Quran, bagaimana ia akan hidup jika tanpa pedoman?!. Tanpa pedoman, darimana ia menemukan jalan kebenaran, meski identitasnya muslim dan mu’min?. Bahkan hadist-pun tak lengkap tanpa Al-Quran, dan hadits bersumber dari perkataan Rasulullah yang akhlaknya adalah Al-Quran. Maka, adakah yang mampu menggantikan Al-Quran?!. Satu-satunya mukjizat yang berkelanjutan antar zaman. Sepertinya halnya saya bertanya tentang keimanan diawal tema ini, berapa persen kah, kita mengenal Al-Quran?. Bukan hanya perkara diturunkan dengan berapa tahap, di bawa oleh siapa, untuk siapa, dan bagaimana diturunkannya?!. Tapi kenal yang betul-betul kenal, hingga kau bisa berkomitmen dengannya seumur hidup. Membersamainya, menjaganya didada, berinteraksi dengan triliunan jam terbang, tanpa merasa bosan meski sesekali merasa lelah. 

Ketika kita mulai menggilai Al-Quran dan terkagum-kagum, karena arus zaman yang membuatnya kembali terangkat ke permukaan, bagaimana kita bereaksi?!. Apakah kita akan hanya ikut menggilai sesaat, lalu dengan berakhir isu tersebut, berakhir juga kekaguman dan minat kita pada Al-Quran?!. Atau ternyata Al-Quran tak sesuai ekspektasi, ternyata menghafal Al-Quran itu berat, sulit, lelah, sudah dihafal mati-matian, lama, penuh perjuangan, hilangnya mudah dan hanya sekejapan. Lalu timbullah perasaan putus asa, dan merasa tidak berbakat menghafal Al-Quran, dan lain sebagainya. Padahal jelas Al-Quran sudah Allah janjikan kemudahan atasnya. Banyak faktor yang bisa menjadi penyebabnya. Dan mungkin salah satunya adalah, kita kurang dalam mengenalnya. Sudah menjadi tabiatnya, manusia menolak sesuatu yang tidak ia ketahui, dan membenci sesuatu yang tidak ia pahami. Bahkan Al-Quran merekam contoh nyata ini dalam surah Al-Kahfi, ketika Nabi Musa as. Meminta membersamai Nabi Khidir dalam perjalannya dan mengambil ilmu darinya. Apa yang nabi khidir katakan?!. 

 قَالَ اِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيْعَ مَعِيَ صَبْرًا  وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلٰى مَا لَمْ تُحِطْ بِهٖ خُبْرًا

“Sungguh, engkau tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana engkau akan dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”(Q.S. Al-Kahfi. 67-68).

Kenali Al-Quran, cari tahu tentangnya. Kenali sampai kau tak punya Alasan untuk enggan membersamainya. Kenali sampai tumbuh kekagumanmu atasnya, lalu suburkan dengan cinta. Kenali, orang-orang yang membantumu untuk menyuburkan kecintaan terhadap Al-Quran. Kenali manusia pertama yang membacakannya, kenali orang-orang yang membuat Mukjizat yang paling agung ini, bisa sampai ke tangan mu, setidaknya bintang-bintang Al-Quran dikalangan para sahabat. Ibnu Mas’ud, Ubay bin kaab, Ali bin abi thalib, Abu musa al-asy’ari, Utsman bin affan, Abu darda, dan masih banyak lagi. Jadi, antara keimanan dan Al-Quran, bukan pilihan yang bisa kau tinggalkan satu dan ambil satu. Tapi dua hal yang saling menyeimbangkan. Dan sesuai dengan tuntunan Rasul, bagaimana beliau mengajari para sahabat adalah, menanamkan keimanan terlebih dahulu lalu kemudian Al-Quran.

created by. @nidaa_un

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top